Di taman sekolah tiga sahabat duduk di bawah pho rindang sambil mencicipi bekal yang mereka bawa. Namun, lain halnya dari salah satu mereka yaitu Tya, ia hanya sibuk menulis dan meletakan perbekalannya dipangkuannya.
“Kamu nulis apa Ty?”, tanya Raka sambil melirik ke arah buku Tya.
Tya tidak menjawab, ia hanya membalasnya dengan senyuman.
“Ya… ditanya malah cengar-cengir . nulis apa sih?”
“Hm… ada deh!”
“Kasih tau dong Ty, please…!” desak Raka yang begitu penasaran.
“Oo… uda maen-maen rahasia ni ya!” cerutu Naya dan menyelesaikan makannya.
“Bukan gitu. Lagian gada penghiatan kok. Teneng aja, kalau memang waktunya uda tiba kalian juga akan tau!” kata Tya penuh misteri.
“Ya uda tibain sekarang aja waktunya Ty, kita uda ga sabar ni!”
“Betul apa kata Raka, Ty?”
“Ga mungkin, waktunya itu ga sekarang Naya nyamuk!”
“Kenapa ga mungkin? Gada yang ga mungkin di dunia ini Ty, kalau Tuhan berkehendak pasti semuanya jadi mungkin. Terus kamu katain aku Naya Nyamuk, kamukanuda tau nama aku Kinaya Pratiwi, ga setujuh dong ya dipanggil Naya Nyamuk. Mama sama papa aku uda capek-capek tau nyari nama yang cantik pakai diaqiqahin lagi, trus kamu suka-sukanya ganti nama aku, masih mending namanya keren, ini ngga. Huhh… nyebelin banget sih!” protes Naya dengan panjang lebar.
“Habis kalau ngomong bikin nyemak ditelinga, terus ngga ada spasinya lagi!” kata Tya.
“Hahaha….. nging.. nging.. nging!” ejek Raka kegirangan.
“Yee… apaan sih. Ntar kalau aku ngga ngomong kalian kangen sama suara aku!” celetus Naya dengan PDnya.
“Prett… siapa bilang. Ga usah PD tingkat tinggi gitu deh!” cetus Raka.
“Hehe… gapapa dong ya, daripada kita minder!”
“Setuju juga tuh sama Naya!” bela Tya
“Hm… terserah deh. Ke keas yuk, uda mau bel ni!’ ajak Raka.
“Ok!”jawab Tya dan Naya segera berjalan menuju kelas.
Sepulang sekolah Naya menghampiri Tya.
“Nanti sore sibuk ngga ty?” tanya Naya.
“Ngga, kenapa Ya?”
“Temeni aku ke took buku ya Ty!”
“Sekarang?”
“Nggak, nanti sore aja ya.. ya..!”
“Ok… Fine…!” kata Tya setuju.
“Kalian mau kemana? Kok ngga ngajak-ngajak!” tanya Raka dengan wajah manyun.
“Mau ke took buku. Ikut ngga?” tawar Tya.
“Ikur ding ya, bosan di rumah gad a teman1”
“Ya udah, nanti aku jemput kamu ya, Ty!” ujar Naya.
“Aku juga ya, Ty. Tunggu di rumah kamu!” kata Raka.
“Iya. Sampain jumpa nanti ya1” ucap Tya sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil jemputannya.
“Naya mana ya? Kok ga datang-datang.” gumam Raka sambil melihat arlojinya.
“Sabar, bentar lagi juga datang!” ucap Tya.
Tok… tok… tok…. Terdengar suara ketukan pintu rumah Tya dan ia segera membukanya.
“Uda lama ya nunggunya. Maaf ya?” kata Naya.
“Uda sampi ubanan cuma nuggu kamu aja!” keluh Raka.
“Ah… uda gapapa. Berangkat yuk!” ajak Tya sambil bejalan mengambi tas nya di atas meja.
“Kamu mau n yari buku apa Ya?” tanya Raka sambil meperhatikan satu per satu buku yang tertata rapi di dalam rak.
“Nyari bukku kumpulan puisi gitu Ka, kalau keliatan bilang ke aku ya Ka.!” Jawab Naya.
“Ok. Sip… aku kesana dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik. Ga usah galau tanpa ku. Hehe…! Pamit Raka sambil berjalan menuju rak buku yang terletak paling sudut.
Naya terus mencari buku yang diinginkannya dan memperhatikan setiap susunan buku-buku. Sementara itu, Tya berjalan di belakang Naya.
“Menurut kamu lebih bagus yang mana Ty, ini atau ini?” tanya Naya sambil memegang dua buku di tangan kanan dan tangan kirinya.dan tidak ada suara yang menanggapi pertanyaan Naya.
“Tya, lebih bagus yang mana?” ulang Naya.
Namun Tya belum menjawab pertanyaan Naya.
“Ty, Tya…!” ucap Naya. Lalu ia berbalik kebelakang dan meihat Tya telah terduduk bersandar di bawah rak buku dan pada hidung Tya bercucuran darah.
“Kamu kenapa Ty?” Naya tersentak melihat Tya dan berlari menghampiri Tya untuk segera menghapus darah pada hidung Tya.
“Ngga kenapa-napa Ya, Cuma pening aja!” jawab Tya tersendak-sendak.
“Aku antar pulang ya!”
“Ngga usah, cari buku kamu dulu!” tolak Tya.
“Gapapa, lain kai juga bisa kok!” Naya membantu Tya untuk berdiri dan mereka segera pulang tanpa pamit kepada Raka dan meninggalkan Raka
Di sekolah Tya tida hadir untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Raka dan Naya kesepian tanpa adanya seorang sahabat yang selalu melengkapi hari-hari mereka. Mereka sepakat untuk mengunjungi Tya sepluang sekolah nanti.
Tok… tok… tok… Naya mengetuk pintu rumah Tya dan tidak lama kemudian ada seseorang yang membuka pintu.
“ Maaf, nyari siapa ya non, mas?” tanya seorang pembantu rumah tangga.
“Tya ada ngga bu?” jawab Raka.
“Non Tya kemaren dibawa ke rumah sakit mas!”
“Apa? Ke rumah sakit.. Tya sakit apa bu?” tanya Naya dengan mata terbelalak.
“Kurang tau ya non sakit apa, susul aja ke rumah sakit non. Non Tya di rawat di kamar Melati non!”
“Oh… makasih banyak ya bu!” ucap Naya panik dan segera berangkat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Naya dan Raka langsung berlari menghampiri Tya.
“Tya… kau kenapa? Kamu sakit apa Ty?” tanya Raa tergopoh-gopoh.
Tya hanya membalasnya dengan senyuman.
“Jawab Ty, kamu sakit apa?” ulang Raka yang begitu panik dengan keadaan Tya.
“Tya… Tya terkena kanker pada otanya nak Raka!” jawab sang ibu sambil meneteskan air mata.
“Tya…..!” teriak Naya memeluk sahabatnya dengan tulus.
“Kamu kenapa ngga bilang kita Ty, kenapa?” tanya Raka yang masihtidak percaya dengan keadaan.
Tya tidak berbicara satu kata pun, ia masih saja terus tersenyum berusaha untuk tegar, namun ia meneteskan air matanya. Kemudian Tya mengambil dua buku yang diletakkan di dekatnya. Lalu Tya memberi kedua bku itu kepada kedua sahabatnya.
“Buku apa ini?” Naya mengusapkan air matanya.
Raka dan Naya membuka buku itu dan membacanya. Kedua buku itu berisi berbagai foto kenangan mereka dan cerita tentang mereka. Air mata mereka menetes piluh membacanya. Pada bagian terakhir terdapat sebuah puisi terakhir yang ditulis oleh Tya.
“Mengenalmu sesuatu yang tak pernah terduga olehku
Kau datang dengan penuh kecerian
Mrnyambut ku masuh dalam hidupmu
Suka dan duka telah kita jalani
Berbagai cerita telah kita ukir bersama
Berjanji setia tak akan apa penghianatan
Namun maafkan aku yang merasahiakan sesuatu
Aku tak ingin kau terbengkalai karena ku
Aku tak ingin melihat kau bersedih dengan keadaan ku
Biarah rasa sakit ini ku tanggung sendiri
Sekarang telah tiba waktunya
Rahasiaku yang ingin kau tahu
Telah terungkap disaat-saat terakhirku
Tetap semangat dan jangan bersedih
Jangan biarkan air mata menetes membasahi pipimu
Usap air mata mu yang bening
Tersenyumlah hiasi wajah indahmu
Kisah yang kita rangkai bersama
Akan tersimpan di dalam album terindah
Siangku akan berubah menjadi malam
Aku akan segera tertidur lelap
Menutup mata ini untu selama-lamanya
Disaat terakhir aku ingin melihat senyum darimu
Yang menghantarkan ku pada hembusan terakhirku
Kita akan berpisah
Namun aku tak akan pergi jauh
Aku akan seau ada dihatimu
Mengintai hari-harimu”
Air mata mereka yang disekitar itu bercucuran terharu mendengar Naya membacakan puisi itu. Raka dan Naya tidak mampu menahan kesedihan yang mereka terima. Raka selalu egusap air matanya setiap air matanya jatuh menetes, ia terus berusaha untuk kuat, namun itu tidak dapat ia lakukan. Airmatanya selalu dan selalu jatuh membasahi buku yang ia pegang.
“Nggak Ty. Kamu harus kuat, kita ngga mungkin pisah!” bantah Raka yang masih saja mengusap air matanya.
Tya selau saja membalasnya dengan senyuman, Raka dan Naya pun memeluk Tya yang terbaring. Tya mengangkat tangannya dan mengelus kepala mereka secara bergantian. Tidak berapa lama kemudian mereka bangkit kembali dan mereka memandangi wajah Tya yang tampak sayu. Walaupun begitu, Tya selalu tampak kuat untuk menerima takdirnya dan Tya memberikan senyuman kepada mereka. Dibalik derai airmata kedua sahabatnya itu terselip sebuah indah yang tuus mereka pancarkan kepada Tya. Pada penghujung senyum mereka, Tya pun menghembuskan nafas terakhir dan menutup mata untuk selama-lamanya. END