CERPEN “Puisi Terakhir”

0

 

Di taman sekolah tiga sahabat duduk di bawah pho rindang sambil mencicipi bekal yang mereka bawa. Namun, lain halnya dari salah satu mereka yaitu Tya, ia hanya sibuk menulis dan meletakan perbekalannya dipangkuannya.

“Kamu nulis apa Ty?”, tanya Raka sambil melirik ke arah buku Tya.

Tya tidak menjawab, ia hanya membalasnya dengan senyuman.

“Ya… ditanya malah cengar-cengir . nulis apa sih?”

“Hm… ada deh!”

“Kasih tau dong Ty, please…!” desak Raka yang begitu penasaran.

“Oo… uda maen-maen rahasia ni ya!” cerutu Naya dan menyelesaikan makannya.

“Bukan gitu. Lagian gada penghiatan kok. Teneng aja, kalau memang waktunya uda tiba kalian juga akan tau!” kata Tya penuh misteri.

“Ya uda tibain sekarang aja waktunya Ty, kita uda ga sabar ni!”

“Betul apa kata Raka, Ty?”

“Ga  mungkin, waktunya itu ga sekarang Naya nyamuk!”

“Kenapa ga mungkin? Gada yang ga mungkin di dunia ini Ty, kalau Tuhan berkehendak pasti semuanya jadi mungkin. Terus kamu katain aku Naya Nyamuk, kamukanuda tau nama aku Kinaya Pratiwi, ga setujuh dong ya dipanggil Naya Nyamuk. Mama sama papa aku uda capek-capek tau nyari nama yang cantik pakai diaqiqahin lagi, trus kamu suka-sukanya ganti nama aku, masih mending namanya keren, ini ngga. Huhh… nyebelin banget sih!” protes Naya dengan panjang lebar.

“Habis kalau ngomong bikin nyemak ditelinga, terus ngga ada spasinya lagi!” kata Tya.

“Hahaha….. nging.. nging.. nging!” ejek Raka kegirangan.

“Yee… apaan sih. Ntar kalau aku ngga ngomong kalian kangen sama suara aku!” celetus Naya dengan PDnya.

“Prett… siapa bilang. Ga usah PD tingkat tinggi gitu deh!” cetus Raka.

“Hehe… gapapa dong ya, daripada kita minder!”

“Setuju juga tuh sama Naya!” bela Tya

“Hm… terserah deh. Ke keas yuk, uda mau bel ni!’ ajak Raka.

“Ok!”jawab Tya dan Naya segera berjalan menuju kelas.

 

Sepulang sekolah Naya menghampiri Tya.

“Nanti sore sibuk ngga ty?” tanya Naya.

“Ngga, kenapa Ya?”

“Temeni aku ke took buku ya Ty!”

“Sekarang?”

“Nggak, nanti sore aja ya.. ya..!”

“Ok… Fine…!” kata Tya setuju.

“Kalian mau kemana? Kok ngga ngajak-ngajak!” tanya Raka dengan wajah manyun.

“Mau ke took buku. Ikut ngga?” tawar Tya.

“Ikur ding ya, bosan di rumah gad a teman1”

“Ya udah, nanti aku jemput kamu ya, Ty!” ujar Naya.

“Aku juga ya, Ty. Tunggu di rumah kamu!” kata Raka.

“Iya. Sampain jumpa nanti ya1” ucap Tya sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil jemputannya.

 

“Naya mana ya? Kok ga datang-datang.” gumam Raka sambil melihat arlojinya.

“Sabar, bentar lagi juga datang!” ucap Tya.
Tok… tok… tok…. Terdengar suara ketukan pintu rumah Tya dan ia segera membukanya.

“Uda lama ya nunggunya. Maaf ya?” kata Naya.

“Uda sampi ubanan cuma nuggu kamu aja!” keluh Raka.

“Ah… uda gapapa. Berangkat yuk!” ajak Tya sambil bejalan mengambi tas nya di atas meja.

 

“Kamu mau n yari buku apa Ya?” tanya Raka sambil meperhatikan satu per satu buku yang tertata rapi di dalam rak.

“Nyari bukku kumpulan puisi gitu Ka, kalau keliatan bilang ke aku ya Ka.!” Jawab Naya.

“Ok. Sip… aku kesana dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik. Ga usah galau tanpa ku. Hehe…! Pamit Raka sambil berjalan menuju  rak buku yang terletak paling sudut.

Naya terus mencari buku yang diinginkannya dan memperhatikan setiap susunan buku-buku. Sementara itu, Tya berjalan di belakang Naya.

“Menurut kamu lebih bagus yang mana Ty, ini atau ini?” tanya Naya sambil memegang dua buku di tangan kanan dan tangan kirinya.dan tidak ada suara yang menanggapi pertanyaan Naya.

“Tya, lebih bagus yang mana?” ulang Naya.

Namun Tya belum menjawab pertanyaan Naya.

“Ty, Tya…!” ucap Naya. Lalu ia berbalik kebelakang dan meihat Tya telah terduduk bersandar di bawah rak buku dan pada hidung Tya bercucuran darah.

“Kamu kenapa Ty?” Naya tersentak melihat Tya dan berlari menghampiri Tya untuk segera menghapus darah pada hidung Tya.

“Ngga kenapa-napa Ya, Cuma pening aja!” jawab Tya tersendak-sendak.

“Aku antar pulang ya!”

“Ngga usah, cari buku kamu dulu!” tolak Tya.

“Gapapa, lain kai juga bisa kok!” Naya membantu Tya untuk berdiri dan mereka segera pulang tanpa pamit kepada Raka dan meninggalkan Raka

 

Di sekolah Tya tida hadir untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Raka dan Naya kesepian tanpa adanya seorang sahabat yang selalu melengkapi hari-hari mereka. Mereka sepakat untuk mengunjungi Tya sepluang sekolah nanti.

 

Tok… tok… tok… Naya mengetuk pintu rumah Tya dan tidak lama kemudian ada seseorang yang membuka pintu.

“ Maaf, nyari siapa ya non, mas?” tanya seorang pembantu rumah tangga.

“Tya ada ngga bu?” jawab Raka.

“Non Tya kemaren dibawa ke rumah sakit mas!”

“Apa? Ke rumah sakit.. Tya sakit apa bu?” tanya Naya dengan mata terbelalak.

“Kurang tau ya non sakit apa, susul aja ke rumah sakit non. Non Tya di rawat di kamar Melati non!”

“Oh… makasih banyak ya bu!” ucap Naya panik dan segera berangkat menuju rumah sakit.

 

Sesampainya di rumah sakit Naya dan Raka langsung berlari menghampiri Tya.

“Tya… kau kenapa? Kamu sakit apa Ty?” tanya Raa tergopoh-gopoh.

Tya hanya membalasnya dengan senyuman.

“Jawab Ty, kamu sakit apa?” ulang Raka yang begitu panik dengan keadaan Tya.

“Tya… Tya terkena kanker pada otanya nak Raka!” jawab sang ibu sambil meneteskan air mata.

“Tya…..!” teriak Naya memeluk sahabatnya dengan tulus.

“Kamu kenapa ngga bilang kita Ty, kenapa?” tanya Raka yang masihtidak percaya dengan keadaan.

Tya tidak berbicara satu kata pun, ia masih saja terus tersenyum berusaha untuk tegar, namun ia meneteskan air matanya. Kemudian Tya mengambil dua buku yang diletakkan di dekatnya. Lalu Tya memberi kedua bku itu kepada kedua sahabatnya.

“Buku apa ini?” Naya mengusapkan air matanya.

Raka dan Naya membuka buku itu dan membacanya. Kedua buku itu berisi berbagai foto kenangan mereka dan cerita tentang mereka. Air mata mereka menetes piluh membacanya. Pada bagian terakhir terdapat sebuah puisi terakhir yang ditulis oleh Tya.

 

“Mengenalmu sesuatu yang tak pernah terduga olehku

Kau datang dengan penuh kecerian

Mrnyambut ku masuh dalam hidupmu

Suka dan duka telah kita jalani

Berbagai cerita telah kita ukir bersama

Berjanji setia tak akan apa penghianatan

Namun maafkan aku yang merasahiakan sesuatu

Aku tak ingin kau terbengkalai karena ku

Aku tak ingin melihat kau bersedih dengan keadaan ku

Biarah rasa sakit ini ku tanggung sendiri

Sekarang telah tiba waktunya

Rahasiaku yang ingin kau tahu

Telah terungkap disaat-saat terakhirku

Tetap semangat dan jangan bersedih

Jangan biarkan air mata menetes membasahi pipimu

Usap air mata mu yang bening

Tersenyumlah hiasi wajah indahmu

Kisah yang kita rangkai bersama

Akan tersimpan di dalam album terindah

Siangku akan berubah menjadi malam

Aku akan segera tertidur lelap

Menutup mata ini untu selama-lamanya

Disaat terakhir aku ingin melihat senyum darimu

Yang menghantarkan ku pada hembusan terakhirku

Kita akan berpisah

Namun aku tak akan pergi jauh

Aku akan seau ada dihatimu

Mengintai hari-harimu”

 

Air mata mereka yang disekitar itu bercucuran terharu mendengar Naya membacakan puisi itu. Raka dan Naya tidak mampu menahan kesedihan yang mereka terima. Raka selalu egusap air matanya setiap air matanya jatuh menetes, ia terus berusaha untuk kuat, namun itu tidak dapat ia lakukan. Airmatanya selalu dan selalu jatuh membasahi buku yang ia pegang.

“Nggak Ty. Kamu harus kuat, kita ngga mungkin pisah!” bantah Raka yang masih saja mengusap air matanya.

Tya selau saja membalasnya dengan senyuman, Raka dan Naya pun memeluk Tya yang terbaring. Tya mengangkat tangannya dan mengelus kepala mereka secara bergantian. Tidak berapa lama kemudian mereka bangkit kembali dan mereka memandangi wajah Tya yang tampak sayu. Walaupun begitu, Tya selalu tampak kuat untuk menerima takdirnya dan Tya memberikan senyuman kepada mereka. Dibalik derai airmata kedua sahabatnya itu terselip sebuah indah yang tuus mereka pancarkan kepada Tya. Pada penghujung senyum mereka, Tya pun menghembuskan nafas terakhir dan menutup mata untuk selama-lamanya. END

 

Rindu Terpendam

0

Dalam hatiku terukir namamu
Dalam benak ku tebayang senyummu
dalam mimpiku selau hadir dirimu
Dalam fikiranku selalu tentang diriku

Derteduh dibawah langit hitam
dihiasi oleh bintang malam
seakan menghibur hati yang kelam
Tiupan angin yang lembut
seakan turut merasa kesedihan diri yang surut

Rasa rindu yang begitu dalam
Yang selalu ku pendam
direlung hati yang terdalam
Tak dapat ku padam

Aku sendiri disini manatapi langit
Berharap bintang
dapat memberi kabar tentang dirnya
Angin malam dapat menyampaikan pesan ku
Bahwa aku sesalu merindunya

Masa-masa Yang Indah

0

Terniang didalam sepi
Teringatku dalam sunyi
Tentang masa-masa kita
Masa-masa yang begitu indah

Ku ambil secarik kertas
Ku tulis semua kisah kita
Ku semua curahan kerinduanku

Aku ingin kembali seperti dulu
Penuh canda dan tawa bersama
Dan saat duka bersama

Andai saja ini sebuah takdir tersurat
Aku akan berusaha semampuku
untuk merupah suratan ini
Tapi ini tersirat
yang tak dapat dipungkiri lagi

Lelah dan Letih

0

Keeratan mulai renggang
Keakraban mulai memudar
Senyum yang terpancar hanyalah senyum benci
Tatapan mata tidak sama lagi seperti yang dulu

Hanya karena seorang
Semua orang terkena getahnya
Dan hanya karena perbedaan
Semua hancur berkeping-keping
Dan tak mudah untuk mengembalikankannya

Mulai lelah dan letih menghadapinya
Terasa hampa dan tiada arti
Yang tersisa hanya keputus asaan
Dan berubah menjadi kebencian
Bersedihan pun tak ada gunanya
Itu hanya membuat kegelisahan jiwa

Lidah membuat kita terluka
Hingga…
Ego membuat kita terpisah

Telah mengkedepan kan ego yang hadir pada diri
Tanpa memikir akibat yang terjadi
Tidak mementingkan perasaan yang tersakiti
Bahkan menambah goresan luka hati

Perlakuan tidak terarah lagi
Jiwa telah dikuasai ego yang mendalam
Mementingkan kepuasan amarah semata
Dan menunggu penyesalan datang

► Kecemburuan

0

Sakit nya hati
bila diperlakukan seperti itu
kau bercanda tawa dengan dirinya
dirinya yang ku kenal dekat
aku tau kau dan dia hanya bersenda gurau
tapi ntah kenapa aku tidak dapat menerimanya
yang lalu aku juga pernah
berbuat begitu padamu
sehingga kau tak acuhkan kan aku
apakah aku harus
berbuat seperti itu kepadamu?
aku rasa tidak!
sekarang aku telah menjauhinya
karena aku masih menghargai persaanmu
tapi kini sebaliknya
kau semakin mendekatinya
tanpa menghargai perasaanku
aku diam seolah tak peduli
tapi hatiku telah bergejolak
melihat kau dan dia
seperti api membara membakar kesabaran
tak dapat menahan kecemburuan

Bertemu seseora…

0

Image

Bertemu seseorang dipersimpangan jalan
Saling senyum dan saling sapa
Kedekatan pun mulai terjadi
Dan pertemanan pun terbentuk

Nyaman bila bersama
Tidak ada gundah gulana
Banyak kesamaan diantaranya
Dan seiring waktu berjalan
Persahabatan pun tercipta dengannya

Banyak warna sifat tertera
Yang sebelumnya tidak pernah ditemui
Aku dan yang lain berusaha mempelajarinya
Agar dapat mengerti sifat itu

Dia selalu mengajari kami banyak hal
Dan terutama
Mengajarkan untuk tegar manghadapi masalah
Mengajarkan untuk tidak meneteskan air mata
Dan mengajarkan kami
agar bersifat dewasa menghadapi sesuatu

Kebersamaan selalu diiringi canda tawa
Saling bantu pada setiap masalah
Menghibur hati yang sedih
berbagi setiap cerita suka dan duka
Dan terkadang kesal pada setiap perlakuan

Walau bagaimana pun itu
Itu semua terasa sangat indah
Namun seiring waktu berjalan
Dia pun harus pergi
Melepaskan putih abu-abu
Dan berjuang untuk mencari titik-titik kesuksesan

Tidak terasa
perpisahan pun hadir didepan mata
Ini terasa seperti mimpi
Tersentak aku seketika
Seakan tak percaya ini terjadi

Jika kau pergi
Tak ada lagi yang yang mengajari kami
Tak ada lagi yang menahan air mata kami
Dan tak ada lagi yang melatih kami
Untuk bersikap lebih dewasa

Hari-hari takkan pernah sama tanpa mu
Mungkin semua akan berubah
Perpisahan memang tak perlu ditangisi
Pertemuan tak perlu di sesali

Tapi hati ini terlalu sedih
dan tak dapat ku membendungnya
sehingga aku selalu menangis dan menangis
setiap teringat dengan perpisahan

Terimakasih telah menjadi bagian dari hidup ku
Terimakasih telah meberi warna kehidupan yang cerah
Kami bahagia punya sahabat seperti mu
Kami bangga punya sahabat seperti mu

Dan berjanjilah
Jangan pernah lupakan kami
Ingat lah masa-masa suka dan duka
yang yang pernah kita geros bersama
disini kami akan selalu merindukan mu
Nama mu akan selalu melekat dihati kami

Semua titik perjalanan kita
Akan tersimpan didalam sebuah kotak
yang berisi semua memory
Dan semua akan menjadi album terindah

Tetap tersenyum pada kenyataan
Capailah semua angan dan dan cita-cita
Dan terus berjuang untuk semua impian

Maafkan aku yang kiranya
tak sengaja telah menyayat hatimu.
Dan tersenyumlah seindah senyum
yang pernah kau tebarkan.

Ingin Kembali (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)

0

Dalam lamunan aku termenung
Dalam sunyi aku tebayang
terbayang akan semua yang berlalu
Cerita indah yang pernah kita ukir bersama

Sepiku mengingatkanku kembali
pada satu kenangan
Tentang indahnya kebersamaan
Tentang sedihnya perpisahan

Teringat akan senda gurau kalian
Teringat akan canda tawa kalian
Teringat akan duka lalu kalian
Dan teringat akan semua tentang kaian

Setiap ku teringat masa lalu
aku selalu berharap itu dapat berulang kembali
Bahkan setiap ku teringat masa lalu
aku tak percaya kalau kita telah terpisah

Terkadang sedih menyelimuti hati
air mata membasahi pipi
Bayang hadir dalam mimpi
Dan terkadang aku senyum sendiri

Kita bagaikan hamparan pasir
Selalu mengikuti arah angin
Ingin rasanya berbalik melawan angin
Namun apa daya
Diri hanyalah manusia biasa
yang tak dapat berbuat apa-apa

Dalam lagu rindu aku bernyanyi
Untuk kalian yang jauh dimata dekat dihati

Meski hati sedih dan menangis
aku akan tabah menerima semua ini
aku yakin suatu saat nanti
kita dapat bersatu seperti yang dulu lagi

Maafkan aku yang kiranya
tak sengaja telah menyayat hatimu.
Dan tersenyumlah seindah senyum
yang pernah kau tebarkan.

Hampa

0

Dunia dalam bayang keedanan
Manusia terbuai dalam lembah nisan
Hati keras membantu
menebar kedengkian terhadap sesama

Tak ada lagi kasih yang tersimpan
Hilang dihempas ganasnya keangkuhan jiwa
Yang ada hanyalah jeritan kematian
Hidup hampa tak bermakna

Sejenak tertegun dalam kehampaan
Seakan berbisik didalam keheningan
Sejumlah tanya
mengandung sejumlah makna
Masih adakah waktu untuk merubahnya

Terhapus Malam (⌣_ ⌣`)

0

Aku duduk terpaku melihat alam
Di samping pohon rindang
Sejenak ku pejamkan mata
Kurasakan kesejukan senja

Ditemani burung-burung kecil
yang bernyanyi lucu
dihiasi bunga-bunga yang indah
Ditiupi oleh angin sepoi
Dan pepohonan menari dengan lembut

Aku tersenyum
Bahagia melihat semua ceria
Turut benyanyi bersama burung-burung
Dan menari di bawah pepohonan

Namun
Kini senja mulai hilang perlahan
Terhapus oleh gelapnya malam
Kini ku mengurung diri
Tak ada lagi yang menemani
Tak ada lagi yang menghiasi
kesejukan pun berganti
dengan dingin nya malam
menusuk raga ini

Kubuka tirai biru
Ku tatap langit malam
Bulan tak lagi menerangi malam
Bintang tak lagi berkerlipan

Kemanakah angin melayang
Tatkala lenyap senja yang indah
Kelam dalam kabut nya jiwa
Meratapi kesunyian
Menikmati kehampaan

Aku pergi di hening nya malam
Mencari penghibur hati
Namun tak ada bercak kebahagian
Yang aku temukan

Akhirnya aku berdiam diri
Menunggu senja kembali